Membedah puisi Cinta dan Ilmu Tajwid | Coretan Warlin

Membedah puisi Cinta dan Ilmu Tajwid

Dulu, sewaktu Google+ masih ada dan belum banyak wadah menulis, banyak ditemukan karya-karya hebat dari penulis terkenal, sebut saja Dee Lestari, Asma Nadia,  Ayu Utami, dan lain-lain

Karya mereka menjadi fenomenal dan banyak dibagikan di beberapa media sosial

begitu juga saat Kompasiana digemari banyak orang

Ada banyak tulisan dari kompasiana juga yang tak kalah hebat, seperti Cintaku Seperti Ilmu Tajwid (sayangnya link tersebut sudah tidak dapat ditemukan, karena telah di hapus oleh penulisnya,, karena dia mengaku bukan dia penulis aslinya)  

yang sampai sekarang masih sering saya baca dan saya gemari.


Seringkali kita terlupa akan cinta, lalu mengkonversikan nya dengan ilmu tajwid yang bagi sebagian orang tidak nyambung






~ CINTAKU SEPERTI ILMU TAJWID ~

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah, yang hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan Nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang

 Jika mim mati bertemu ba disebut Ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta. 

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain, melebur jadi satu. 

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Mutta'asil, paling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro, terpantul-pantul dengan keras dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti Mad Thobi'i dalam Al Qur'an

Buanyaaakkk beneerrrrr. 

Semoga dalam hubungan kita ini seperti Idgham Billaghunnah yang cuma berdua, Lam dan Ro'

Meski perhatianku tak terlihat seperti Alif Lam Syamsiah, namun cintaku padamu seperti Alif Lam Qomariah, terbaca jelas. 

Kau dan aku sepeti Idgham Muttaqooribain, perjumpaan dua huruf yang sama Mahraj tapi berlainan sifatnya. 

Layaknya huruf Tafkhim, Namamu pun bercetak tebal di fikiranku.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti Mad Aridlisukun

Subhanallah...


Dari membaca puisi diatas, yang pemilihan diksi nya yang enak dibaca, maupun kata-kata mutiara (menurut saya) begitu menyentuh hati..

bagaimana dengan pembaca sekalian???

beri komentar bila kamu tidak setuju dengan pendapat saya


baca juga : Promosi

It's me Alone on your own, no way to see the end, but here's where the road begins. In time, I know you'll find whatever you're searching for, all of your dreams and moans. Whenever you're feeling lost and lonely, crazy to even try. Just listen the words your heart keeps saying, and don't ask the reason why....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel